Jumat, 03 Agustus 2012

Museum Gula



Banyak daerah memiliki pabrik gula. Tapi hanya Klaten, Jawa Tengah yang memiliki Museum Gula. Beragam koleksinya dapat membuat kita kagum dan bangga. Museum Gula Jawa Tengah terletak di lingkungan kompleks Pabrik Gula Gondang Baru Klaten, termasuk dalam wilayah Desa Gondang Baru, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten.

Letak museum sangat strategis karena berada persis tepi jalan utama/ jalan raya yang menghubungkan kota Yogyakarta dengan Kota Solo. Pendirian Museum Gula Jawa Tengah dilandasi, pertimbangan bahwa perkembangan industri sebagai data untuk pengembangan lebih lanjut. Gagasan pertama dimulculkan oleh Gubernur Propinsi Jawa Tengah yang kala itu dijabat oleh Bapak Soepardjo Roestam dengan dukungan penuh dari Bapak Ir. Waryatno, direktur utama PTP. XV – XVI (persero).

Peresmian berdirinya museum dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 1986, bertepatan dengan diadakannya Kongres Internasional Soceity of Sugar Cane Technologist (ISSCT) di Pasuruan Jawa Timur yang dihadiri para ahli gula seluruh dunia. Museum Gula Jawa Tengan menempati sebuah bangunan lama, yaitu bangunan bekas tempat tinggal yang bergaya arsitektur klasik Eropa.

Bangunan museum didirikan di atas areal tanah seluas 1.261,20 meter persegi dengan luas bangunan 240 meter persegi yang terdiri dari ruang pameran tetap, perpustakaan, lavotary, dan musholla, seta dilengkapi dengan ruang auditorium seluas 753 meter persegi. Status penyelenggaraan museum dilaksanakan oleh PTP. XV – XVI (Persero)yang berkedudukan di Surakarta dan dikelola oleh Pabrik Gula Gondang Baru Klaten.

Dilihat dari jenis koleksinya, museum Gula Jawa Tengah termasuk jenis museum khusus dengan bercirikan teknologi. Koleksi-koleksinya terdiri dari peralatan tradisional penanaman tebu bibit tebu, peralatan tradisional pemeliharaan tanaman tebu dan alat-alat, mekanisme atau fabrikasi dari pabrik gula, serta beberapa foto penunjang. Foto-foto penunjang, antara lain: foto pabrik gula lama, foto upacara giling pertama, tiruan visualisasi ruang administrasi lama dan lain-lain.

Rumah hunian yang sejak tahun 80-an resmi menjadi museum itu, pagi-pagi sudah dibuka untuk umum, walau belum terlihat petugas berjaga. Hingga seorang pria dewasa yang masih tampak muda, datang menyapa. Kami pun berbincang mengenai apa saja yang ada di dalam bangunan dan pekarangan Museum Gula.

Setelah membubuhkan nama, alamat, tanda tangan serta membayar tanda masuk seharga Rp. 3.500,- kita dipandu petugas berkeliling museum. Di dalam ruang pendaftaran saja, ada berbagai koleksi yang dapat kita simak, mulai dari maket pabrik gula (secara umum), beberapa toples berisi beberapa produk pabrik gula sampai limbahnya (seperti gula pasir, tetes tebu, ampas tebu, dsb), hingga koleksi macam-macam tanda mata dari pengunjung.

Di ruang berikutnya, kita dapat menyaksikan maket pabrik gula Baturaja, Kabupaten OKU, Sumatera Selatan. Masih di ruang yang sama, dipajang koleksi yang berhubungan dengan proses produksi gula, sejak dari masa penanaman hingga pembuatan gula. Tak hanya alat pertanian yang digunakan dalam bercocok tanam tebu, bahkan sejumlah hama pengganggu tanaman juga dipajang.

Selain itu ada mesin-mesin yang digunakan di sebuah pabrik gula (manual-modern) dan alat laboratorium. Terlebih lagi di ruang berikutnya. Beberapa koleksi di ruang ini mungkin dapat membangkitkan kenangan masa kecil. Sebab disana dipamerkan berbagai jenis perangkat kerja seperti mesin ketik, mesin hitung, juga alat hitung manual yang semuanya terlihat antik. Beberapa diantaranya dibuat tahun 1900-an.

Loko Simbah

Di sebelahnya, dipajang meja kerja berikut beberapa peralatan kerja, foto-foto kepala pabrik gula, dari pejabat pertama hingga terkini. Disana juga ada sepasang topi dan tongkat yang digunakan Pak Sinder (istilah/jabatan untuk supervisor perkebunan). Topi dan tongkat ini mungkin mengingatkan kita pada kakek, atau orang tua teman yang kebetulan memiliki jabatan serupa. Saat ini, asesoris kostum tersebut kerap dipakai dalam film/sinetron ber-setting zaman kolonial. Beberapa koleksi dipajang diluar bangunan. Dekat dengan pintu masuk, ada alat pembuat gula dengan sistem manual. Menurut Bimo, petugas museum yang menemani TC saat berkunjung ke Museum Gula baru-baru ini, gula yang dihasilkan dari alat tradisional tersebut secara fisik mirip gula merah (gula Jawa) tapi bahannya dari tebu. Tak kalah menariknya, adalah koleksi yang ada di sebelah kiri bangunan museum. Disana ada Simbah (lokomotif kuno) yang menurut MURI dibuat Backer dan Rubb Prada Nederland tahun 1889. Tapi menurut Bimo, di loko tersebut tak ada catatan tahun pembuatannya.

Museum Gula masih punya koleksi lain yang tak kalah menarik. Ada loko buatan Jerman produksi tahun 1901, pedati (semacam gerobak yang digerakkan dengan sapi/kerbau), yang digunakan sebagai pengangkut tebu dari ladang ke pabrik, dan alat transportasi untuk inspeksi di perkebunan.

Saksi Kejayaan

Sekitar lebih dari tiga setengah abad bangsa Indonesia dijajah kolonial Belanda. Sekitar itu pula beragam kekayaan bumi khatulistiwa ini dieksploitasi. Salah satunya tebu yang dapat diolah menjadi gula (disamping produk lain seperti vetsin, minuman dll).

Tak heran, pada pertengahan abad XIX, di Indonesia (sebagai salah satu wilayah Hindia Belanda) hanyak didirikan industri gula. Tidak tanggung-tanggung, Belanda menerapkan teknologi paling canggih yang dimilikinya, hingga Indonesia menjadi produsen gula terbesar di dunia kala itu.

Pabrik Gula Gondangwinangung Klaten

Bukti banyaknya pabrik gula di Indonesia ada di berbagai kota, bahkan masih beroperasi hingga kini. Beberapa diantaranya Pabrik Gula (PG) Madu Kismo (Yogyakarta), PG Tasik Madu (Karanganyar, Jawa Tengah), PG Pangka (Tegal, Jawa Tengah), dan tentu saja Pabrik Gula Gondang Baru yang ada di Jl. Raya Yogya-Solo, Dustin Gondawinangun, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini. Yang disebut terakhir sudah ada sejak tahun 1860. Menarik bukan untuk di kunjungi …..!!!

ALAMAT :
d.a Pabrik Gula Gondang Baru
Jalan Raya Jogja – Solo Km. 25, Klaten – Jawa Tengah
Telepon 072-322328


JAM KUNJUNG :
Senin – Kamis: 08.00 – 13.30 WIB
Jumat: 08.00 – 11.00
Sabtu: Pk. 08.00 – 12.30

Deles Indah


Deles Indah merupakan objek wisata berupa alam pegunungan dengan suasana alami dan berudara sejuk, tempat ini sering dijadikan sebagai sarana wisata semipetualangan dan perkemahan.
Deles Indah terletak di lereng kaki gunung Merapi sebelah timur kurang lebih 25 kilometer dari Kota Klaten, Deles berada di Wilayah Desa Sidorejom Kecamatan Kemalang, dengan ketinggian antara 800-1300 meter diatas permukaan laut.
Objek wisata ini memiliki spesifikasi suasana pemandangan alam pegunungan, dan dari tempat ini dapat dilihat pemandangan puncak Gunung Merapi, pemandangan kota Klaten.
Untuk mencapai objek wisata ini, dapat ditempuh dari dua jalur, yakni Klaten-Gondang-Kemalang-Deles dan Boyolali-Jatinom-Kemalang-Deles.
Tak sia-sia mengunjungi tempat ini, karena terdapat beberapa peninggalan sejarah dan tempat rekreasi yang dapat ditemui, di antaranya:
a. Bekas Pesanggrahan Sunan Paku Buwono X
b. Makam Kyai Mloyopati
c. Sendang Kali Reno
d. Taman Rekreasi Ngajaran
e. Taman Pemandangan Pring Cendani
f. Gua sapuangin atau Gua Siluman

Warung Apung Rowo Jombor


Sesuai dengan namanya, Rowo Jombor merupakan suatu wilayah Rawa-rawa. Rowo Jombor terletak di wilayah Klaten, sekitar 1 jam dari Yogyakarta. Sayangnya tidak ada angkutan umum untuk menuju ke sana. Transportasi menuju ke sana adalah dengan mobil carteran atau jika pergi sendiri atau berdua bisa dengan menggunakan rental sepeda motor. Harga carteran mobil di Yogyakarta adalah 250.000/24 jam, sedangkan untuk sepeda motor 50.000/hari. Tidak terlalu banyak plang dan rambu-rambu yang menunjukkan lokasi ini, sehingga bila Anda pertama kali ke tempat ini ada baiknya mencari info terlebih dahulu melalui google maps atau nanya sana sini, hehe.

Tempat ini cocok untuk Anda yang suka berpetualang dan ingin mencari tujuan wisata yang berbeda, jadi pengorbanannya memang lebih besar. Jalan dari Yogyakarta ke Klaten tidka terlalu sulit, karena merupakan jalan antar propinsi sehingga jalannya cukup mulus dan tinggal lurus saja ikutin jalan. Yang sulit adalah jalan masuk menuju Rowo Jombor. Kalau tidak salah ada satu rambu yang menunjukkan keberadaan Rowo Jombor, jika tidak menemukan Anda bisa mencari alternatif rambu dengan tulisan Teluk Bayat. Tidak jauh dari plang tersebut Anda akan menemukan belokan ke selatan dan ditandai dengan rambu tidak resmi yang sepertinya dibikin masyarakt sekitar bertuliskan Rowo Jombor. Jalan menuju ke Rowo Jombor sebenarnya sangat halus, hanya saja banyak belokan sehingga harus benar-benar tahu belokan mana yang harus diambil (bisa tanya warga masyarakat sekitar yang sangat ramah).

Rowo Jombor merupakan kawasan rawa yang disulap menjadi tempat wisata kuliner dengan rumah makan apung di atas rawa. Pengunjung juga bisa memancing ikan dan hanya membayar untuk jasa memasak. Menu yang ditawarkan adalah menu ikan tawar dengan berbagai bumbu, hanya saja akan lebih enak jika Anda memancing ikan sendiri karena rasanya akan lebih fresh! Kalau pesan langsung dari rumah makan ikannya kebanyakan sudah tidak fresh dan mengurangi rasanya. Harga yang ditawarkan memang sedikit lebih mahal, tapi di samping makan kita juga bisa menikmati pemandangan rawa sepanjang pemandangan dengan latar belakang bukit atau pegunungan kapur Bayat.

Destinasi ini memang lebih cocok untuk rekreasi keluarga besar, namun Anda yang sendiri juga bisa menikmati tempat ini, mengingat tempatnya cukup sepi dan cerah. Terkadang rumah makan memainkan musik dangdut ala orkes yang cukup kencang, tapi jangan khawatir, Anda bisa meminta pemilik restoran untuk mengecilkan atau mematikan musiknya.

This slideshow requires JavaScript.
Tak cukup rasanya bila hanya sekedar makan-makan, ada satu tempat yang tidak boleh dilewatkan bila Anda ke Rowo Jombor, yaitu curug xxx. Kenapa xxx? Karena saya lupa namanya. Dari Rowo Jombor Anda harus bergerak ke selatan lagi sekitar 30 menit, namun Anda harus siap dengan jalan yang dipenuhi batu alias tidak mulus sama sekali. Mobil 4×4 sangat disarankan, karena jalannya berbatu dan menanjak. Tapi lebi disarankan lagi aklau Anda tidak membawa mobil. Bagi Anda yang belum mahir dengan sepeda motor sebaiknya cari ojek. Hehe…Curug ini memang sangat tidak familiar. Tidak ada tiket masuk, tidak ada kamar mandi, tidak ada musholla, cuma ada tempat parkir kecil yang muat untuk sekitar 8 sepeda motor saja. Berbeda dengan Rowo Jombor, curug ini lebih cocok untuk Anda yang solo travel.

Masuk ke dalam kawasan curug sebenarnya sudah dibuatkan jalan setapak yang cukup enak untuk berjalan, jalannya juga tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk melihat air terjunnya (curug). Airnya masih sangat bening, masih banyak terdengar sahut-sahutan suara burung dan serangga liar. Di bawah curug banyak terdapat batu-batu besar yang datar, sehinga bisa dipakai buat sholat. Airnya sangat dingin. Saya juga tidak paham kenapa batu-batu besar bisa berada di wilayah Klaten, karena tempat ini lumayan jauh dari kawasan gunung Api. Bukit terdekat hanyalah bukit Bayat yang merupakan bukit kapur. Turun dari curug ini juga harus lebih hati-hati karena turunan yang berbatu akan membuat Anda banyak mengerem. Motor matic sangat disarankan untuk digunakan.

Begitulah, pengalaman saya mengunjungi destinasi wisata alternatif yang tidak biasa.Semoga bisa menambah referensi perjalanan Anda.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting Coupons